warnieAmalia
Tuesday, April 24, 2012
Asa Dan cita
Perjuangan menuju Kesuksesan. apakah anda pernah menjadi mereka atau seperti mereka atau membayangkan menjadi mereka.seperti yang ada digambar ini. susah memang untuk menggapai cita-cita dan asa. perlu perjuangan yang panjang, untuk sukses kita harus berani berjalan mendaki gunung yang terjal. apa yang ada dibenak anda sekarang, jika anda harus seperti mereka. sanggup atau tidak. Gambar yang ada Diblog ini, serupa dengan kisah hidup saya yang harus berjuang melawan kebodohan. disekolah dasar saya mendapatkan ruangan sekolah yang memang sudah tak layak pakai, tapi itu tidak menjadi kendala untuk saya. Selama SMP saya juga harus berjuang keras untuk menyelesaikan sekolah saya, meski kadang tak mudah untuk sampai ketempat tujuan. transportasi yang membuat saya dan teman-teman harus berkorban, yaa berkorban. dimusim kemarau kami harus melawan arus sungai, karena memang ketempat tujuannya harus melawan arus. saya yang waktu itu, berumur 12 tahun lebih kelas satu SMP dihari pertama sekolah harus berjalan disepanjang sungai tanpa sepatu karena yang saya dan teman-teman injak itu batu-batu yang bisa membuat kaki kami luka. ternyata bukan saja dihari pertama sekolah, pengorbanan kami berlanjut. kami harus menggunakan sampan supaya bisa sampai kesekolah. bangun diwaktu subuh, harus sekali lagi melawan arus sungai. siapa yang sanggup dipagi buta seperti kami harus berteman dengan dinginnya air dan angin. tapi kami ingin mencapai asa dan cita, kami anak negeri dari belahan bumi ingin mengharumkan bumi pertiwi. kami ingin menjadi Kartini, kami ingin melawan kebodohan. meski dingin, meski jalan yang kami tempuh tidak mudah tapi kami tak pernah putus asa. sejarah besar bagi kami dan teman-teman bisa melewati perjalanan panjang semasa sekolah. dipikiran kami waktu itu hanya ingin pintar-pintar-pintar dan pintar. kami tak peduli, jika harus berhadapan dengan kerikil-kerikil tajam. belajar bagi kami itu sudah pasti, mendapat pendidikan yang layak itu keinginan kami. selesai masa SMP, saya dan teman-teman harus belajar lagi. apa yang menjadi masalah, saya harus berpisah dari orang tua tercinta, saya harus sekolah kekota. dan sayapun haru tinggal ditempat keluarga saya. hari-hari yang pilupun tercipta, mengorbankan, tenaga dan perasaan. terkadang saya merasa waktu itu saya patut disebut pembantu rumah tangga. kembali lagi saya harus berkorban demi cita dan asa, seperti pembantupun tidak mengapa bagi saya. jarang sekali saya harus bisa senang-senang dengan teman saya, sepulang sekolah saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Yupz, Bekerja layaknya pembantu rumah tangga. sampai detik ini, saya masih ingat bagaimana perjuangan saya menyenangi keluarga dan orangtua saya. ada yang sanggup diantara kalian yang membaca blog ini, bangun jam 3 subuh dan harus mencuci pakaian kesungai beteman dengan dinginnya angin. ada yang sanggup diantara kalian harus mengorbankan perasaan, ketika saya ingin sekali meluruskan pinggang, ingin istirahat, ingin belajar tapi saya sudah dikatakan pemalas. yaaah, ingin sukses harus banyak berkorban. lulus dari SMA, saya ingin sekali belajar diluar kalimantan. tawaran Kulyah yang saya ambil dikota malang, Univ Kanjuruhan dan IAIN Malang, sekali lagi saya harus berkorban dan mengalah. karena ortu saya tidak setuju. dan ditahun 2006 saya terdaftar menjadi mahasiswa dikampus STKIP Melawi jurusan PGSD, karena kampus yang masih seumur jagung. mungkin kami menjadi kelinci percobaan atau permainan politik. kampus kamipun bermasalah, dan sayapun hanya kulyah selam 2 semester. tak surut niat saya untuk terus belajar, ditahun 2007 saya berangkat ke pontianak untuk ikut tes. dan cobaanpun terus datang, saya dinyatakan tidak lulus dikampus yang saya pilih. yaa mungkin saya pikir prestasi saya hanya pas-passan. ternyata saya salah untuk masuk kekmpus itu tidak dilihat dari prestasi tapi dari latar belakang saya. saya bukan anak gedongan, saya bukan anak guru, bukan anak orangtua yang berpendidikan dan itu mungkin menjadi alasan. saya enggak habis pikir ternyata kampus itu, mempraktekkan tradisi suap menyuap, dan saya jika ingin lulus harus membaya sekian juta. ini gambaran wajah pendidikan di indonesia, sebuah kampus yang menjunjung arti pentingnya pendidikan ternyata menerima sogokan. dan alhamdulillah dengan ilmu agama yang saya punya dan bigron saya dari MA, sedikit banyak ada tersimpan dihati saya, saya tidak mau disuap dan sayapui tak mau menyuap. dan anda tentu tahu suap menyuap adalah haram. dengan ijin orangtua saya, saya mendaftarkan diri dikampus Merah. Universitas Muhammadiyah menjadi pilihan saya, jurusan PAI. apakah kampus ini menjadi pelarian saya, awalnya memang ia karena saya tidak di ijinkan untuk kulyah diluar kalimantan. saya bersukur Di UMP banyak pelajaran yang bisa saya AMBIL, banyak Pesan yang bisa saya tangkap. menjadi orang yang berprestasi tentunya tidak mudah, keinginan untuk menyelesaikan kulyah 3,5 tahun atau 4 tahun tidak tercapai. banyak kendala yang harus saya hadapi, mulai dari masalah pribadi, ekonomi dan kecelakaan yang membuat saya tak mampu berjalan diwaktu itu, hingga masalah dosen pembimbing yang seing keluar kota. ketika teman saya bisa selesai tepat waktu, ada rasa iri dihati saya. sayapun ditakdirkan untuk menyelesaikan kulyah dengan waktu 4,5 tahun. setelah selesai apakah saya sudah sukses, tentunya tidak. ada tantangan baru, saat saya selesai kulyah dan meraih titel S1 itulah awal dari segalanya. saya bisa dikatakan sukses apabila saya bermanfaat untuk orang lain. saya bisa bermanfaat untuk, agama, dan negeri tercinta.banyak asa dan cita yang ingin saya capai termasuk mencerdaskan anak bangsa. dan sayapun harus siap dengan cobaan-cobaan yang tak terkira. semoga kisah hidup saya bisa menjadi pelajaran bagi anda.
Monday, April 23, 2012
Friday, March 30, 2012
Aku benci suamiku Dikutif dari cerita Isteri sholehah
Semoga peristiwa di
bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki “Istri
Solehah”
Mohon dibaca sampai selesai, tak
usah malas membaca yah..
Insya Allah Menginspirasi
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir
sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar
menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci
suamiku sendiri.
Walaupun
menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun
membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa
melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul
keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan
siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka,
suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah,
aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku.
Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani
tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku
menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku
telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan
menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami,
akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja
masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang
diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa
mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia
memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah
kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia
memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia
menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan
teman-temanku.
Tadinya aku
memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau
mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya
ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum
pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya
setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar
padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar
dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi
agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena
aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu
hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi
sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di
meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar
anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan
ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan
kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih
ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan
perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke
kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari
itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku
berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum
bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu,
seakan-akan berat untuk pergi
Ketika mereka
pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah
hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku
bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol
dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus
membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa
dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku
tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi
hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan
meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku
lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja
kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut. Dengan marah, aku mengomelinya
dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama
kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun
mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang,
aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?”
tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama
salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku
berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan
tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi
dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa
malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi
untuk berhutang dulu.
Hujan turun
ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit
berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi
handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon.
Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku
mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku
diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi
keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa
saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu.
Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.
Lelaki asing
itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan
dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya
terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok
dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa
pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi
pucat seputih kertas.
Entah bagaimana
akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh
keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu
suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena
selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah
menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang
dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan
karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan
kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua
orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun
keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak
yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak
mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah
dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu.
Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur
pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku
menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun
kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari
inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum
hangat.
Airmata merebak
dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata
tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian
wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi
bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan
dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti
menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah
kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat
betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah
mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia
memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung
dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur,
bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan.
Aku tak pernah
tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa
yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku
adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena
aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah
memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak
perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku
hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor
cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah
lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal
teman-temanku.
Saat pemakaman,
aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang
bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di
tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku.
Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu
mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang
kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini
kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di
hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah,
Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat
suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa
membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika
malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap
ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa
melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku.
Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku
terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu
kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering
terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering
berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa
kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan
meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer,
mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.
Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang
bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote
televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku
berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan
itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah
terkena panah cintanya.
Aku juga marah
pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah
tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang
membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku
marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang
mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena
aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami
yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak
baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku
sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak
perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini
kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah
kepergian suamiku.
Empat puluh
hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari
keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa
bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua
dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli,
yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk
kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah
bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta
kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata
seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah
sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia
memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak
pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja
atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi
bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku
hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh
dia.
Kebingunganku
terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia
membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat
pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak,
ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata
apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku
Liliana tersayang,
Maaf
karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus
membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa
memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu
singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah
kulakukan untukmu.
Seandainya
aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan
kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit
untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak
banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya
untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya
sayang.
Jangan
menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang
terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan
mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku
menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk
Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah
istri yang baik seperti Ibu. dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan
Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian
berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Aku terisak
membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur
khas suamiku kalau ia mengirimkan note. Notaris memberitahu bahwa selama ini
suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan
ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan
tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh
orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa
besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri
kami dengan cinta.
Aku tak pernah
berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus
sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya
kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu
meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam
kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua
putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi
seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku
harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak,
ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku
merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan
hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena
cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima
kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan
menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putriku
menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap
setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku.
Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai
kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu
dan kalian berdua.” Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat
menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk
membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk
mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas
dari cintanya yang begitu tulus.
Oleh “istri solehah”
Bottom of Form
DARI CINTA UNTUK CINTA
Sahabat
Dear Cinta
Assalamu’alaikum wr.wb
Sahabatku, mungkin kamu akan senyum
sendirian atau malah meneteskan airmata saat kamu membaca tulisanku ini.
Ucapkan Basmalah sebelum membaca. J J J “_”
Aku yakin Semua telah terencana dan nggak
ada yang kebetulan, aku bahagia bisa mengenalmu dan menjadikanmu seorang teman.
Berbagi cerita dengan mu, tertawa bersama meskipun hanya bahasa lisan, candaan,
senyuman dan rasa sedih semua terungkap dalam SMSan.
Cinta, tentu kamu pernah baca SMS ini.
Enggak ada salahnya kamu baca lagi.
22
November
MY
SMS (Ketika kutahu kamu sakit)
Sebelum
kutidur kukirimkan doa buatmu, aku mohon agar Tuhan menjagamu. Kembali ku
berdoa kala kuterjaga dari tidurku, dihatiku terbesit kata-kata kamu baik-baik
ajakan, kamu enggak kenapa-napakan? kamu masih kuatkan.kamuuu-kamu dan kata
itupun terputus, airmataku mengalir hatiku kembali berkata aku mau jika rasa
sakit yang kamu derita bisa dibagi, bagilah denganku. Aku mau merasakan rasa
sakitmu sakitnya anggota badanmu. Bukankah seorang muslim itu bersaudara, jika
saudaranya sakit maka saudara muslim
yang lain juga ikut sakit. Aku masih ingat dengan janjiku doa dalam sujudku
akan terselip namamu. Aku mencintaimu karena Allah. Ya Robb ku titip temanku.
Jika ia sakit, sembuhkanlah, hanya engkau maha penyembuh yang sesungguhnya.
kamu masih ingat dengan ini, sms ini. Ini
tersave tanggal 25 November sekitar jam 11 malam hari jum’at 2011.ntah kenapa kgak bisa didelet, dah berapa kali aku berusaha menghapusnya. mungkin hp aku yang rusaaaak.
Baca lagi yaaa,
Kamu :
Q dh g'kuat.q pengen nangis
Aku :
kamu kenapaaaaaaa ??? Ceritaaa ajaaaa!!!
Kamu :
Q sbnr'y dh brhari2 nahan nangis,mncb tegar dhdpn klwrgaku.q g'mw mrk lht.Tp q
dh gak sanggup
Aku :
kmu enggak kuat nahan sakit yaaaa, or apa? yang sabar, istigfar biar tenang.
asal kmu tw, wanita menangis bkn berarti ia cengeng , tapi krena kekuatan udh
habis untuk menahan smua.y.
Kamu :
Mf q merusak hr spesialmu..q bnr2
bingung.
Aku :
Ya Robb hari spesial apa sieh, cuman hari lahirkan. enggak ada yg spesial.
enggak ggu juga, ku ajah diT4 tidur nieh. jadi gak ada yg spesial. cerita coba,
apa yg mbwt kmu gak kuat n mw nangis, yaa paling tidak, bisa bwt hatimu tenang.
sypa tw bisa saling menasehati, ISLAM itu Brsaudarakan.
Kamu :
Q msh blm bs crita mslh'y apa, tp sejak Sep-Okt-hingga td q sll brusaha trsenyum..apa
km pny kiat2 khusus spy bs tegar n te2p trsnym?
Aku :
apapun Masalahnya, ku hanya bisa berdoa smga kamu kuat, smga kmu tegar. semakin
tinggi kadar iman seseorang semakin berat masalah dan cobaan yg hrs kita
hadapi. stiap masalah psti ada hikmahnya. kita hrus yakin setiap kesulitan
pasti ada kemudahan. Allah jg nggak akn membrikan cobaan dibatas kemampuan kita
(Laa Yukallifullah hunaf san illa wus a'ha). hadapi dengan Sabar, siapa tw
dengan Masalah jadi ladang amal bagi kita. kalau mampu dan bisa Sholat malam
ya, nggak mpu du"k, baring aja, kalau km nggak mau nangis depan klwargamu
or ortumu, menangis n ngadu sama Allah. Insha Allah kita akan tenang. dengan
jalan sholat lail. Sabarrrr yaaaa
Kamu :
Mksh bnyk ,saran n nasihat'y.. Q skrg dh lmyn tenang….Dh kuhapus aer
mata..istighfar trs..skrg q dh lmyn kuat lg...mksh ya q bs nangis di km n buat
q plong..Skrg q dh bs km tinggal tdr..skali lg mksh yah..
Aku :
iyaah masama, klo kmu bisa liat aku, liat air mataku jatuh, aku nangis , nangis
untukmu. aku cuman bisa brdoa mga km kuat. mga kmu sabar.
Kamu :
Q jd nangis lg nih..Udh hapus tuh aer mata km..q tuh gak paantas ditangisin..
Aku :
tpi nyatanya aku jga nggak bisa nahan. aq nangis seakan aku ngerasakan pa yg
kmu rasakan. yaaa udaah dah malam, kmu hrus istirahat yg cukup.
Kamu :
Iya..ni dh lewat jm12..met istirahat jg sohibku :* ({})
Air mata itu bukan bohongan atau bahasa
smsan tapi kenyataan. Aku menangis ketika kamu menangis, aku merasa sakit
ketika kamu sakit, dan aku senang ketika kamu senang. Aku bisa masuk dalam
kehidupanmu, malam itu ketika kamu mengatakan kamu ingin nangis kamu udah
enggak kuat. Dan aku tahu pasti kamu perlu seseorang yang menguatkanmu. Mungkin
ini terlalu berlebihan, tapi ini nyata. Aku khawatir akan keadaanmu, ada
pertnyaan dihatiku “apa yang terjadi
denganmu, apa yang membuatmu menangis????apa?apa?apa?apa?apa?. Ah sobat jika
kamu disampingku bahu ini pasti setia menjadi sandaranmu, tangan ini pasti bisa
mengusap air matamu, bibir ini pasti bisa berucap untuk menasehatimu dan aku
bisa menguatkanmu. Sobat walaupun aku tak bisa merangkulmu, mengusap air
matamu, menjadi sandaranmu yang nyata. Tapi hati ini, hati ini nyata
merasakannya, air mata ini nyata menetes, sobat aku bukan maya untukmu tapi aku
nyata. Hanya jarak yang menjauhkan kita. Kupastikan aku ada untukmu jika kamu
perlu aku.
Maya dan nyata, nyata dan maya apapun itu,
aku ada dan kamu ada itulah kita. Dimanapun kita berada, semoga kamu dan juga
aku senantiasa mengingat Allah. Semoga ukhuwah yang kita jalankan diridhoi
Allah. Saling mendoakan adalah bukti Rasa CINTA yang kita punya. CINTA, CINTA,
CINTA Dan CINTA, Iya kan CINTA. CINTA Akan Indah Jika Berlandaskan Iman Dan
Takwa itulah cinta antar sesama.
Ditulis pukul 23:30 hari sabtu 2011
kota khatulistiwa KalBar, Pontianak tercinta.
Nie Amalia
Thursday, March 29, 2012
Bintang Yang Cantiiiik
Bintang Yang Cantiiik, selalu dihati. meskipun kami tak satu pijakan denganmu, tapi cahayamu menerangi tempat kaki kami berpijak. kau memang jauh dari kami, tapi dekat dihati kamiiiii. bertemu langsung denganmu adalah harapan kami, kalaupun niatan kami tak sampai dan tak terwujud didunia ini, kami punya keyakinan akan berkumpul denganmu dan bersamamu di Jannah nanti. mengenalmu, mencintaimu suatu anugerah bagi kami. meminjam kata-kata Delisa, Kamiii Mencintaimu Karena Allah. harapan kami tetaplah bintang menjadi bintang yang cantik, bintang yang cantik luar maupun dalam. Nie_Amalia. Lovandaaah dari Kalimantan.
Mengutif dari • FP Wanita Solehah Itu,Bidadari Syurga •
★Ketika Aku RINDU maka MENIKAH★ بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم ... السلام عليكم ورحمة الله و بركاته Buat Akhina Wa Ukhtina yang ingin TAG or SHARE PICT'a,di persilahkan "BEBAS Silahkan Bantu sahabat'' lain ngETaG ya agar mendapat Ilmuღ Alhamdulillaah….. Segala Puji bagi Allah Tuhan Seru sekalian alam.Tuhan Yang Maha Rahman.Maha Rahim.. Shalawat serta salam senantiasa tercurah untuk kekasih Allah,Muhammad Rasulullah Shallahu 'alaihi wassalam.Allahumma Shalli wa Salim Ala Sayyidina Muhammadin wa Ala aali Sayyidina Muhammadin fi Kulli Lam Hatin wa na Fasinn bi'adadi Kulli Ma'lu Mil Lak. Aku rindu menikah…. Ukhti yang shalihah benarkah ini? Di setiap kita bertemu pasti yang kita bahas adalah seputar itu. MENIKAH. Ukhti yang shalihah, aku pun merasakan hal yang sama. Ketika umur kita sudah menginjak kepala dua, hampir tiga mungkin namun roman – roman menikah masih jauh dari mata kita. Ukhti yang shalilah, mungkin kita selalu merasa cemburu dan kerap iri, ketika melihat saudara kita yang lain telah menggenapkan separuh diennya, padahal mereka baru saja hijrah disini, mereka baru saja mengenal Islam belakangan ini. Sedang kita yang sudah bertahun - tahun tak kunjung mendapatkan itu. Aku rindu menikah…. Ukhti yang shalihah, mungkin kita mulai bosan dengan kesendirian ini. Di saat tugas dakwah yang kian membuntuti belum lagi msalah – masalah pelik pribadi yang terus mengerogoti pikiran dan perasaan ini, namun lagi lagi kita akan menemui kata “ Sabar ya Ukh…” dari nasehat saudara kita yang lain pada saat kita curhat tentang masalah kita. Huh! Bosan. Dan kita pun kadang sudah menemukan jawaban dari semua kesendirian ini. Coba lihat diri kita hari ini? Sudah baikkah? Atau mungkin kita sekarang sedang larut oleh kemaksiatan yang tak kita sadari, emosi yang kerap merajai hati sampai kita sudah tak merasa menjadi hamba yang futur tapi justru bangga dengan keadaan yang sekarang ini. Ukhti yang shalihah, masih ingat janji Allah dalam surat Al Ahzab ayat 35 “Sungguh Laki – laki dan perempuan muslim, laki – laki dan perempuan mukmin, laki – laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki – laki dan perempuan yang benar, laki – laki yang sabar, laki – laki dan perempuan yang sabar, laki – laki dan perempuan yang khusyuk, laki – laki dan perempuan yang bersedekah, laki – laki dan perempuan yang yang berpuasa, laki – laki dan perempuan yang memelihara kehormatan, laki – laki dan perempuan yang memelihar akehormatan, laki – laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Ukhti yang shalihah, sudah seberapa sabarkah kita? Sudah seberapa taatkah kita? Sudah seberpa rajinkah kita berpuasa? Sudah seberapa khusyukkah kita? Sudah sejauh mana kita memelihara kehormatan diri? Ukhit yang shalihah, coba bayangkan jika kita menikah hari ini pada saat kita masih futur, buruk dan jauh dari Allah? Sudah terbayangkah laki – laki yang akan menjadi pendamping kita? Pasti tidak kan jauh dari keadaan kita. Apa yang kita lakukan akan berbalik pada diri kita, apa yang kita beri itulah yang kan kita terima. Ada pesan yang mungkin bisa kita renungi: “ Aku minta pada Allah bunga yang cantik tapi Dia memberiku kaktus berduri, aku minta pada Allah hewan mungil yang lucu tapi Dia member ulat berbulu. Aku sedih.Aku kecewa. Kenapa begini? Namun lama – kelamaan, kaktus berduri itu berbunga menjadi sangat indah dan ulat berbulu itu berubah menjadi kupu – kupu yang cantik dan menawan. Kadang kita terluka dan sakit atas keadaan kita, padahal Allah sedang merajut kebahagiaan untuk kita. Begitulah Allah, Dia tahu apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.” Ukhti yang shalihah, Allah tahu yang terbaik bagi kita. Mungkin kita belum menemukan siapa pemilik tulang rusuk ini, karena Dia ingin kita memperbaiki diri. Dia ingin kita menjadi hamba yang benar – benar shalihah dalam Islam ini, tak ada kata – kata lain selain sabar, semoga Allah masih membimbing langkah kita dan terus diistiqomahkan di jalan ini.Amin…. Teruntuk: Saudari - saudariku, perjalanan ini masih panjang, tetep istiqomah dan semangat ya ^_^ ღღ ANA UHIBUKKA LADZI AHBABTANI LAHUUღღ (¯`v´¯)♥SALAM SANTUN UKHUWAH♥.(¯`v´¯) `·.¸.·`(´'`v´'`) ♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥(´'`v´'`)`·.¸.·` Semoga bermanfaat InsyaAllah...
Subscribe to:
Posts (Atom)























