Tuesday, April 24, 2012

Asa Dan cita




Perjuangan menuju Kesuksesan. apakah anda pernah menjadi mereka atau seperti mereka atau membayangkan menjadi mereka.seperti yang ada digambar ini. susah memang untuk menggapai cita-cita dan asa. perlu perjuangan yang panjang, untuk sukses kita harus berani berjalan mendaki gunung yang terjal. apa yang ada dibenak anda sekarang, jika anda harus seperti mereka. sanggup atau tidak. Gambar yang ada Diblog ini, serupa dengan kisah hidup saya yang harus berjuang melawan kebodohan. disekolah dasar saya mendapatkan ruangan sekolah yang memang sudah tak layak pakai, tapi itu tidak menjadi kendala untuk saya. Selama SMP saya juga harus berjuang keras untuk menyelesaikan sekolah saya, meski kadang tak mudah untuk sampai ketempat tujuan. transportasi yang membuat saya dan teman-teman harus berkorban, yaa berkorban. dimusim kemarau kami harus melawan arus sungai, karena memang ketempat tujuannya harus melawan arus. saya yang waktu itu, berumur 12 tahun lebih kelas satu SMP dihari pertama sekolah harus berjalan disepanjang sungai tanpa sepatu karena yang saya dan teman-teman injak itu batu-batu yang bisa membuat kaki kami luka. ternyata bukan saja dihari pertama sekolah, pengorbanan kami berlanjut. kami harus menggunakan sampan supaya bisa sampai kesekolah. bangun diwaktu subuh, harus sekali lagi melawan arus sungai. siapa yang sanggup dipagi buta seperti kami harus berteman dengan dinginnya air dan angin. tapi kami ingin mencapai asa dan cita, kami anak negeri dari belahan bumi ingin mengharumkan bumi pertiwi. kami ingin menjadi Kartini, kami ingin melawan kebodohan. meski dingin, meski jalan yang kami tempuh tidak mudah tapi kami tak pernah putus asa. sejarah besar bagi kami dan teman-teman bisa melewati perjalanan panjang semasa sekolah. dipikiran kami waktu itu hanya ingin pintar-pintar-pintar dan pintar. kami tak peduli, jika harus berhadapan dengan kerikil-kerikil tajam. belajar bagi kami itu sudah pasti, mendapat pendidikan yang layak itu keinginan kami. selesai masa SMP, saya dan teman-teman harus belajar lagi. apa yang menjadi masalah, saya harus berpisah dari orang tua tercinta, saya harus sekolah kekota. dan sayapun haru tinggal ditempat keluarga saya. hari-hari yang pilupun tercipta, mengorbankan, tenaga dan perasaan. terkadang saya merasa waktu itu saya patut disebut pembantu rumah tangga. kembali lagi saya harus berkorban demi cita dan asa, seperti pembantupun tidak mengapa bagi saya. jarang sekali saya harus bisa senang-senang dengan teman saya, sepulang sekolah saya harus menyelesaikan pekerjaan rumah. Yupz, Bekerja layaknya pembantu rumah tangga. sampai detik ini, saya masih ingat bagaimana perjuangan saya menyenangi keluarga dan orangtua saya. ada yang sanggup diantara kalian yang membaca blog ini, bangun jam 3 subuh dan harus mencuci pakaian kesungai beteman dengan dinginnya angin. ada yang sanggup diantara kalian harus mengorbankan perasaan, ketika saya ingin sekali meluruskan pinggang, ingin istirahat, ingin belajar tapi saya sudah dikatakan pemalas. yaaah, ingin sukses harus banyak berkorban. lulus dari SMA, saya ingin sekali belajar diluar kalimantan. tawaran Kulyah yang saya ambil dikota malang, Univ Kanjuruhan dan IAIN Malang, sekali lagi saya harus berkorban dan mengalah. karena ortu saya tidak setuju. dan ditahun 2006 saya terdaftar menjadi mahasiswa dikampus STKIP Melawi jurusan PGSD, karena kampus yang masih seumur jagung. mungkin kami menjadi kelinci percobaan atau permainan politik. kampus kamipun bermasalah, dan sayapun hanya kulyah selam 2 semester. tak surut niat saya untuk terus belajar, ditahun 2007 saya berangkat ke pontianak untuk ikut tes. dan cobaanpun terus datang, saya dinyatakan tidak lulus dikampus yang saya pilih. yaa mungkin saya pikir prestasi saya hanya pas-passan. ternyata saya salah untuk masuk kekmpus itu tidak dilihat dari prestasi tapi dari latar belakang saya. saya bukan anak gedongan, saya bukan anak guru, bukan anak orangtua yang berpendidikan dan itu mungkin menjadi alasan. saya enggak habis pikir ternyata kampus itu, mempraktekkan tradisi suap menyuap, dan saya jika ingin lulus harus membaya sekian juta. ini gambaran wajah pendidikan di indonesia, sebuah kampus yang menjunjung arti pentingnya pendidikan ternyata menerima sogokan. dan alhamdulillah dengan ilmu agama yang saya punya dan bigron saya dari MA, sedikit banyak ada tersimpan dihati saya, saya tidak mau disuap dan sayapui tak mau menyuap. dan anda tentu tahu suap menyuap adalah haram. dengan ijin orangtua saya, saya mendaftarkan diri dikampus Merah. Universitas Muhammadiyah menjadi pilihan saya, jurusan PAI. apakah kampus ini menjadi pelarian saya, awalnya memang ia karena saya tidak di ijinkan untuk kulyah diluar kalimantan. saya bersukur Di UMP banyak pelajaran yang bisa saya AMBIL, banyak Pesan yang bisa saya tangkap. menjadi orang yang berprestasi tentunya tidak mudah, keinginan untuk menyelesaikan kulyah 3,5 tahun atau 4 tahun tidak tercapai. banyak kendala yang harus saya hadapi, mulai dari masalah pribadi, ekonomi dan kecelakaan yang membuat saya tak mampu berjalan diwaktu itu, hingga masalah dosen pembimbing yang seing keluar kota. ketika teman saya bisa selesai tepat waktu, ada rasa iri dihati saya. sayapun ditakdirkan untuk menyelesaikan kulyah dengan waktu 4,5 tahun. setelah selesai apakah saya sudah sukses, tentunya tidak. ada tantangan baru, saat saya selesai kulyah dan meraih titel S1 itulah awal dari segalanya. saya bisa dikatakan sukses apabila saya bermanfaat untuk orang lain. saya bisa bermanfaat untuk, agama, dan negeri tercinta.banyak asa dan cita yang ingin saya capai termasuk mencerdaskan anak bangsa. dan sayapun harus siap dengan cobaan-cobaan yang tak terkira. semoga kisah hidup saya bisa menjadi pelajaran bagi anda.

No comments:

Post a Comment