Pontianak, 2 juli 2010
Dibalik dinginnya malam, sepi menghampiriku...........
Assalam mualaikum wr..............wb
Salam sejahtera, semoga keselamatan selalu tercurah kepada nya.salam hangat dan salam sayang untuk dia yang disana.
Dia yang tercinta............
semoga merasakan sama yang aku rasakan, dua tahun yang lalu masih teringat jelas dalam ingatanku. Langkah kaki ku begitu semangat menuju masjid, sore itu aku sengaja untuk mengikuti kulyah umum yang diadakan dimasjid kampus. Tiba-tiba mataku tertuju kearah seseorang yang duduknya mungkin sekitar dua meter jaraknya dengan aku. Ya, orang itu seperti memberikan nuansa baru di hatiku, ntah kenapa mataku tak sedikitpun berpaling darinya, dia, dia orangnya, dia yang menggunakan baju kemeja bewarna biru. Kebetulan warna itu warna kesukaan ku, tapi bukan karena itu aku menyukainya melainkan ada sesuatu dihatiku yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Harapan ku saat itu aku bisa kenal dengan dia dan mengenali dia lebih dekat, harapan ku itu menjadi nyata, aku bisa kenal dengan nya karena bantuan teman-teman ku, kebetulan teman ku satu fakultas dengannya. Aku mencari info-info tentang dia, alamatnya, hobinya, sampai makanan kesukaan dia pun aku tahu. Yang membuat aku tambah mengaguminya dia selalu menjaga sholatnya. Aku merasa kecil jika membandingkan pribadi aku dengannya, dia yang bigron pendidikannya bukan dari fakultas Agama islam mampu menjaga sholatnya sementara aku masih lalai.
Juli 2009
kegiatan rutin pra penelitian akan diadakan, biasa kegiatan itu dinamakan KKM( Kulyah Kerja Mahasiswa ) kebetulan aku satu kelompok dengannya, ntah kenapa aku begitu antusias bisa bersamanya. Ada harapan baru dihatiku, harapan ingin tetap dekat dengannya. Hari-hariku dihiasi hari-harinya, aku dan dia selalu bersama-sama, bersama-sama untuk meraih sukses. Dua minggu setelah mengikuti KKM kabar yang tak menyenangkan datang. Salah satu dari keluarga dia, meninggal dunia, lebih sedihnya lagi orang tua dia sendiri yaitu ayahnya. Aku pun bisa merasakan apa yang dirasakan dia, kehilangan orang yang kita sayang begitu menyakitkan terlebih itu orang tua kita. Dia terpaksa pulang kekampung halamannya untuk melihat wajah terakhir ayahnya.
Dia yang terkasih
Kamu masih ingatkan ketika kamu kembali keposko KKM raut wajahmu masih menunjukan kesedihan. Dia, aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu, dan saat itu tanpa terasa air mata ku jatuh mendengar cerita sedih mu.dengan lembut kamu menghapus air mata ku dan mengatakan “ fie kamu jangan sedih, kalau fie sedih Dia akan tambah sedih, Fie tahu enggak! Fie jelek kalau nangis, udah ya, ntar teman-teman tahu kan malu”. Dia ntah kenapa aku bisa menangis seperti itu, apa itu hanya rasa simpatiku, atau rasa sedihku karena pada saat itu aku mulai mencintai mu dan aku bisa merasakan kesedihan mu sehingga persaan mu dan perasaanku melebur menjadi satu.
Dia aku mencintaimu, aku cinta bukan hanya pada fisik mu, melainkan hatimu. bagaimana tidak, dia kamu begitu baik, bukan hanya keaku tapi juga keteman-teman ku. Dia aku tak bisa membedakan lagi apa kamu benar-benar baik, benar pengertian dan benar-benar perhatian karena yang kurasakan saat itu, aku begitu yakin bahwa kamu juga mencintai aku. tapi cinta itu tak pernah terungkap dari mulutku maupun mulutmu, karena kita sama-sama memegang prinsip bahwa cinta itu tak harus diungkapkan cukup dengan perhatian. Dia ternyata prinsip kita salah, dia jika kita mencintai seseorang dan kita tak mempunyai keberanian untuk mengungkapkannya maka itu sangat menyakitkan dan penyesalan yang akan kita terima.
Dia malam ini, aku menuliskan surat untukmu, hanya untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu, mungkin ini tidak pantas karena aku perempuan berani membuat pernyataan seperti ini, aku rasa akulah yang harus memulainya duluan jika tidak maka akan ada penyesalan nantinya. Dia karena cintalah yang mampu menguatkan aku, karena cinta lah yang mampu mengubah pahit menjadi manis, mengubah keruh menjadi bening, mengubah penjara menjadi telaga, mengubah derita menjadi nikmat, dan mengubah kemarahan menjadi rahmat. Dia sekali lagi aku menegaskan bahwa aku sangat mencintaimu. Dan aku berniat untuk menyempurnakan tulang rusuk mu yang hilang itu.
Dia, semoga kamu tidak membenci aku karena pernyataan ku itu,,,kurasa cukup sekian ya, dan aku juga mengucapkan terimakasih untuk mu karena telah mau kenal dengan aku.
Wassalam
Yang merindukanmu
Afiefa Imanisa Ma’ruf
cerita dalam Surat ini hanya Fiktif
siapakah si "dia"????????
ReplyDelete